Sukabumi Violin Community Harumkan Nama Sukabumi di Asia Tenggara

judul gambar

SukabumiBerita.comKomunitas Violin Sukabumi atau Sukabumi Violin Community merupakan satu-satunya komunitas biola yang mewadahi pecinta musik orkestra mulai dari usia 5 tahun sampai 50 tahun di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Mereka pernah mengikuti Indonesia Orchestra & Ensemble Festival (IOEF) se-Asia Tenggara.

Mereka dengan mahir membawakan lagu-lagu kontemporer saat berlatih di Rumah Inspirasi, Musik, Seni dan Budaya di Nanggeleng, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi.

Sukabumi Violin Community berdiri sejak 13 tahun lalu tepatnya pada tahun 2010. Bermula dari empat orang pemuda yang memiliki minat di bidang musik. Kecintaannya pada musik menuntun mereka untuk membentuk komunitas orkestra di kota mochi ini.

“Jadi awalnya kita nggak ada kumpulan gini, awalnya hanya berempat teman band yang suka nongkrong bareng. Karena di Sukabumi belum ada orkestra jadi oke lah kita bikin,” kata Dendi Kusmayandi selaku Ketua Sukabumi Violin Community dilansir Detik.com.

Membangun komunitas baru ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Keempat pemuda itu belajar secara autodidak tentang penggunaan alat musik orkestra. Bukan hanya alat band saja, orkestra juga dilengkapi dengan alat musik lain seperti biola, viola, selo, kontrabas, cello, saxopon, tabular bells dan lain-lain.

“Kita autodidak awalnya. Kalau ngebentuk orkestra itu harus baca not balok jadi akhirnya saja ke Jakarta dulu ke Taman Senopati. Gabung sama anak-anak Jakarta buat belajar cara bikin komposisi dan diajarkan ke teman-teman di Sukabumi,” ujarnya.

Langkah demi langkah dijalani. Terkadang, kata Dendi, gerakan komunitas ini terbentur dengan kesibukan pekerjaan. Namun mereka tetap konsisten mengembangkan komunitas.

“Akhirnya makin ke sini makin banyak yang mau gabung. Kita ajarkan anak-anak yang memang potensinya besar. Dari usia 5 tahun sampai 50 tahun juga ada. Justru banyak yang sudah jago dari umur 5 tahun,” tuturnya.

Saat ini, mereka sudah memiliki kurang lebih 200 anggota. Dendi menerangkan, tak ada kesulitan saat mengajarkan anak-anak. Menurutnya, yang tersulit adalah membuat komposisi. Jika di komunitas lain menggunakan komposisi musik klasik yang sudah ada, mereka memilih untuk membuat komposisi lagu sendiri.

“Kita bikin sendiri jadi kalau misal satu lagu membentuk komposisi itu enak diajarkan kee anak-anak. Materi pembelajaran anak itu nggak ada di Youtube atau Google. Ketika ada di Youtube paling tiga bulan juga sudah bisa dan tidak ada keinginan anak-anak untuk melanjutkan kemampuannya,” ucap dia.

“Cara kita supaya mereka bertahan ya dengan buat komposisi lagu sendiri. Target dalam setahun itu harus hafal meskipun cari di Youtube tetap nggak ada karena aransemennya berbeda,” sambungnya.

Tahun 2020, komunitas ini semakin ajek setelah dibina dalam naungan Rumah Inspirasi, Musik, Seni dan Budaya dengan pembina Dadang Kuswandi. Prestasi yang ditorehkan komunitas ini pun bukan kaleng-kaleng. Mereka pernah pentas dalam acara Indonesia Orchestra & Ensemble Festival (IOEF) se-Asia Tenggara.

“Seleksinya ketat dan kita masuk empat kelompok yang mewakili Sukabumi sekaligus Indonesia. Waktu itu sebelum Covid-19, sama negara-negara lain dari Jepang, China, Singapura, Malaysia itu ada semua di situ. Dari Sukabumi (kita) lulus. Indonesia yang diterima hanya empat grup saja,” kata Dendi.

Tiap tahunnya, mereka selalu mengadakan konser tunggal sebagai bentuk apresiasi dan ajang kenaikan kelas para anggota komunitas. Teranyar, mereka akan mengadakan kembali konser tunggal bertajuk ‘Harmoni Cinta’ pada 11 Agustus 2023 mendatang di Kota Sukabumi. Dendi mengatakan, anggota komunitas akan tampil dipadupadankan dengan penampilan balet.

“Konser nanti 55 anak akan membawakan 10 lagu, karena di Sukabumi hanya kita satu-satunya jadi kita adakan konser tunggal. Yang menariknya di tahun ini ada kolaborasi dengan balet,” katanya.

Di balik aktivitas komunitas seni di Sukabumi yang malang melintang, pihaknya menaruh harap Pemerintah Daerah dapat memfasilitasi dan memberikan perhatian. Terlebih, kata dia, potensi anak-anak di Sukabumi sangat besar namun tak berjalan beriiringan dengan kondisi di lapangan.

“Harapannya Pemda bisa memperhatikan, bukan hanya komunitas kita saja tapi juga untuk komunitas seni lain. Minimal bisa menjadi wadah kita berkreasi, lebih pada fasilitas ya. Sangat disayangkan kita belum punya gedung kesenian,” pungkasnya.